TANTANGAN KEPEMIMPINAN
DALAM PEMERINTAHAN DI INDONESIA
Dosen Pembimbing :
Hendra Sukmana, S.AP., M.AP
Mata Kuliah :
Kepemimpinan Dalam Sektor Publik
Disusun Oleh:
Ruri Achmadi
232020100207
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS BISNIS, HUKUM, DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
TAHUN 2024
BAB I PENDAHULUAN
Demokrasi
saat ini telah menjadi sebuah tatanan yang diakui oleh masyarakat Indonesia.
Keberadaanya telah melahirkan semangat baru untuk mewujudkan pemerintahan yang
menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Dalam konteks kepemimpinan, demokrasi
telah membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengambil kesempatan dalam
turut berperan mengisi posisi-posisi kunci di pemerintahan. Saat ini
kepemimpinan politik, baik di level nasional maupun lokal, telah banyak diisi
oleh beragam figur dengan berbagai latar belakang. Secara umum, mereka adalah
perwakilan atau kader dari partai politik yang telah terpilih melalui sebuah
proses pemilihan yang melibatkan banyak kalangan. Formasi kepemimpinan politik,
dengan demikian, sebagai fondasi dari kepemimpinan pemerintahan adalah
resultante dari kebangkitan politik massa, setelah sebelumnya ditentukan oleh
model politik elitis. Kebangkitan politik pada masa ini secara esensial
menandai juga adanya sebuah kepercayaan baru antara masyarakat dengan
partai-partai politik untuk menentukan kepemimpinan politik. Pada awal
reformasi, kepercayaan itu demikian tinggi. Kebanyakan rakyat cukup meyakini
bahwa partai, termasuk elite dan kadernya, akan memberikan sebuah perubahan
yang signifikan bagi kehidupan mereka. Namun demikian, seiring dengan
perjalanan waktu, muncul persoalan dalam konteks kepercayaan itu. Fenomena
tingginya kepercayaan kepada partai-partai seolah tinggal cerita manis di awal
sebuah orde.
Demokrasi
saat ini telah menjadi sebuah tatanan yang diakui oleh masyarakat Indonesia.
Keberadaanya telah melahirkan semangat baru untuk mewujudkan pemerintahan yang
menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Dalam konteks kepemimpinan, demokrasi
telah membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengambil kesempatan dalam
turut berperan mengisi posisi-posisi kunci di pemerintahan. Saat ini
kepemimpinan politik, baik di level nasional maupun lokal, telah banyak diisi
oleh beragam figur dengan berbagai latar belakang. Secara umum, mereka adalah
perwakilan atau kader dari partai politik yang telah terpilih melalui sebuah
proses pemilihan yang melibatkan banyak kalangan. Formasi kepemimpinan politik,
dengan demikian, sebagai fondasi dari kepemimpinan pemerintahan adalah
resultante dari kebangkitan politik massa, setelah sebelumnya ditentukan oleh
model politik elitis. Kebangkitan politik pada masa ini secara esensial
menandai juga adanya sebuah kepercayaan baru antara masyarakat dengan
partai-partai politik untuk menentukan kepemimpinan politik. Pada awal
reformasi, kepercayaan itu demikian tinggi. Kebanyakan rakyat cukup meyakini
bahwa partai, termasuk elite dan kadernya, akan memberikan sebuah perubahan
yang signifikan bagi kehidupan mereka. Namun demikian, seiring dengan
perjalanan waktu, muncul persoalan dalam konteks kepercayaan itu. Fenomena
tingginya kepercayaan kepada partai-partai seolah tinggal cerita manis di awal
sebuah orde.
Indonesia merupakan salah satu negara yang
memperoleh kemerdekaan dari proses perjuangan, baik itu perjuangan fisik
(perang) maupun perjuangan dalam bentuk diplomasi. Indonesia yang saat ini
berusia 79 tahun (1945-2024) telah memiliki 7 presiden, yaitu :
1. Presiden Soekarno (1945-1967)
2. Presiden Soeharto (1967-1998),
3. Presiden B.J Habibie (1998-1999),
4. Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001),
5. Presiden Megawati Soekarno Putri
(2001-2004),
6. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(2004-2014) dan
7. Presiden Joko Widodo (2014 – Sekarang)
(Ramdhan, 2015).
Ke 7 Presiden yang telah memimpin Indonesia
mulai dari awal kemerdekaan sampai saat ini memiliki gaya kepemimpinan yang
berbeda, hal ini diperkuat dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Wahjosumidjo
(1987), bahwa kepemimpinan pada hakikatnya merupakan suatu hal yang melekat
pada diri seseorang pemimpin berupa sifat tertentu seperti kepribadian (Personality), kemampuan (Ability) dan
kesanggupan (Capability). Perbedaan gaya kepemimpinan ini dapat dilihat dari
dua aspek, antara lain kepemimpinan atas dasar struktural dan kepemimpinan
berdasarkan pertimbangan (Istijanto, 2006). Perbedaan gaya kepemimpinan serta
sejarah yang terukir pada saat mereka memimpin menjadikan ketujuh presiden ini
memperoleh panggilan lain atau julukan yang melekat pada diri mereka, seperti Presiden
Soekarno yang disebut sebagai “bapak proklamator” karena menjadi presiden
pertama Indonesia, pahlawan proklamasi serta salah satu founding fathers yang
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia (Wulandari 2021; Kris & Ratri, 2020).
Presiden Soeharto mendapat julukan sebagai “bapak pembangunan nasional” karena
menjadi presiden yang mencanangkan program pembangunan Repelita (Rencana Pembangunan
Lima Tahun) yang mana dimulai dari Repelita I (1965-1974), Repelita II
(1974-1979), Repelita III (1979-1984), Repelita IV (1984-1989), Repelita V
(1989-1994) dan Repelita VI (1994-1999) (Adryamarthanino & Nailufar, 2021).
Presiden B. J Habibie mendapat julukan sebagai “ bapak teknologi indonesia”
karena berhasil membuat pesawat N-250 Gatotkaca dan mengharumkan nama indonesia
di mata dunia pada bidang pesawat terbang (Putra, 2019). Presiden Abdurrahman
Wahid mendapat julukan sebagai “bapak pluralisme” karena lantang dan tegas
membela keberagaman di indonesia (Prasetiyo, 2020). Presiden Megawati Soekarno
Putri merupakan anak dari Presiden Soekarno dan pada saat dia menjadi presiden
mendapat julukan sebagai “ibu wong cilik / ibu dari rakyat kecil” serta menjadi
presiden wanita pertama di Indonesia (Arhamni, 2020). Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono / SBY medapat julukan sebagai “bapak demokrasi” karena ia menjadi
presiden melalui proses pemilihan umum (pemilu), selain itu presiden SBY juga
dijuluki sebagai “bapak pertahanan” karena memiliki latar belakang sebagai
jendral bintang empat (Kris & Ratri, 2020). Presiden Joko Widodo / Jokowi
mendapat julukan sebagai “bapak infrastruktur” karena membangun banyak
infrastruktur di wilayah-wilayah tertinggal yang tidak pernah terjamah oleh
pemerintahan sebelumnya (Dewi dalam Prasetiyo, 2020).
BAB II PEMBAHASAN
Kepemimpinan dalam pemerintahan di
Indonesia saat ini dihadapkan dengan berbagai macam tantangan. Korupsi,
Radikalisme, keanekaragaman bangsa, kesenjangan sosial, separatisme,
perekonomian, intervensi asing, perubahan iklim dan krisis global, akan memjadi
momok para pemimpin yang ada di indonesia. Pemimpin Indonesia diharuskan mampu memahami dan menyelesaikan tantangan
tersebut . Dalam menghadapi tantangan tersebut,
Indonesia membutuhkan pemimpin yang dapat berdiri di atas semua
golonagn, mengembangkan hubungan yang harmonis, penuh kepercayaan, saling
pengertian, visioner, serta memiliki integritas dan etika yang tinggi.
Ada berbagai macam teori dalam
Kepemimpinan Sektor Publik, diantaranya :
1. Teori Kepemimpinan Transformasional;
2. Teori Kepemimpinan Pelayan;
3. Teori Kepemimpinan Otentik;
1. Kepemimpinan transformasional adalah gaya
kepemimpinan yang berfokus pada menginspirasi, memotivasi, dan menggerakkan
orang-orang untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dan mengubah situasi mereka
untuk menjadi lebih baik. Pemimpin transformasional biasanya memiliki visi yang
kuat, mampu mengkomunikasikan visi tersebut dengan jelas, dan memotivasi orang
lain untuk bekerja menuju visi tersebut.
Ada empat komponen utama dari kepemimpinan
transformasional :
a. Visi: Pemimpin transformasional memiliki
visi yang jelas tentang masa depan yang diinginkan dan mampu mengkomunikasikan
visi tersebut kepada para pengikut dengan cara yang inspiratif.
b. Pemberdayaan : Pemimpin transformasional
memberdayakan para pengikutnya dengan memberikan otoritas, tanggung jawab, dan
kepercayaan untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.
c. Pemberian Contoh: Pemimpin
transformasional menjadi contoh yang baik bagi para pengikutnya dengan
menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang dan visi yang
dikejar.
d. Stimulasi Intelektual: Pemimpin
transformasional mendorong para pengikutnya untuk berpikir kreatif, menantang
status quo, dan mencari solusi yang inovatif untuk mengatasi tantangan.
2. Kepemimpinan pelayan adalah suatu
pendekatan kepemimpinan di mana pemimpin mengutamakan pelayanan kepada orang
lain sebagai prioritas utama. Sebaliknya, tujuan utama mereka adalah untuk
memenuhi kebutuhan, mendorong pertumbuhan, dan meningkatkan kesejahteraan
orang-orang yang mereka pimpin.
Beberapa
prinsip utama dari kepemimpinan pelayan meliputi:
a. Pelayanan: Pemimpin pelayan menempatkan
kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri. Mereka berfokus pada
membantu orang lain tumbuh dan berkembang.
b. Empati: Pemimpin pelayan memiliki
kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan, kebutuhan, dan perspektif
orang lain. Mereka berusaha untuk memahami orang lain secara mendalam.
c. Pembangunan Kesadaran: Pemimpin pelayan
membantu orang-orang di sekitar mereka untuk mengembangkan pemahaman yang lebih
baik tentang diri mereka sendiri, lingkungan mereka, dan bagaimana mereka dapat
berkontribusi secara positif.
d. Pemajuan Kepemimpinan: Pemimpin pelayan
mendorong pertumbuhan kepemimpinan dalam orang lain, bahkan jika itu berarti
melepaskan kendali atau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memimpin.
e. Berfokus pada Kesejahteraan Bersama:
Pemimpin pelayan mengutamakan kesejahteraan dan kesuksesan kolektif tim atau
organisasi daripada kepentingan individu mereka sendiri.
f. Kepemimpinan pelayan sering kali dianggap
sebagai pendekatan yang sangat efektif dalam membangun hubungan yang kuat,
memotivasi tim, meningkatkan kinerja, dan menciptakan budaya kerja yang
inklusif dan berkelanjutan.
3. Kepemimpinan otentik adalah konsep kepemimpinan yang
menekankan pentingnya keaslian, integritas, dan kejujuran dari seorang
pemimpin. Pemimpin otentik memperlihatkan diri mereka secara terbuka dan
transparan kepada orang-orang yang mereka pimpin, dan mereka bertindak sesuai
dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadi mereka.
Berikut
adalah beberapa ciri-ciri utama dari kepemimpinan otentik:
a. Kepemimpinan Berbasis Nilai: Pemimpin otentik
bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mereka yakini.
Mereka tidak hanya mengikuti tren atau beradaptasi dengan harapan-harapan orang
lain, tetapi mereka bertindak sesuai dengan apa yang mereka yakini benar dan penting.
b. Kejujuran dan Integritas: Kepemimpinan otentik
didasarkan pada kejujuran dan integritas. Pemimpin tersebut bersikap konsisten
antara kata-kata dan tindakan mereka, dan mereka tidak melakukan manipulasi atau kebohongan untuk
mencapai tujuan mereka.
c. Keterhubungan dan Empati: Pemimpin otentik memiliki
kemampuan untuk terhubung dengan orang lain secara emosional dan memahami
perspektif mereka. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan menghargai
pengalaman dan pandangan orang lain.
d. Pemberdayaan dan Keterbukaan: Pemimpin otentik
memberdayakan orang-orang di sekitar mereka untuk berkembang dan mencapai
potensi maksimal mereka. Mereka menciptakan lingkungan di mana orang merasa
aman untuk berkontribusi dan mengemukakan ide-ide mereka.
e. Komitmen pada Pertumbuhan Pribadi: Pemimpin otentik
terus-menerus berusaha untuk meningkatkan diri mereka sendiri dan mengembangkan
keterampilan kepemimpinan mereka. Mereka sadar akan kekuatan dan kelemahan
mereka, dan mereka berkomitmen untuk belajar dan berkembang.
f. Kepemimpinan otentik dapat membantu membangun
kepercayaan, meningkatkan kinerja, dan menciptakan budaya kerja yang positif di
dalam organisasi.
BAB III KESIMPULAN
Berdasarkan data di atas, dapat diketauhi
bahwa ada begitu banyak karakter bagi Pemimpin. Dengan adanya ilmu tentang
Kepemimpinan Sektor Publik, diharapkan kita sebagai calon calon pemimpin, dapat
memahami dan menerapkan cabang ilmu tersebut hingga dapat menjadi pemimpin yang
efektif dan efisien di lingkungan kita masing masing.
BAB IV REKOMENDASI
Melihat
begitu banyak nya tantangan yang di hadapi Indonesia, baik itu tantangan dari
dalam negeri dan luar negeri, di harapkan siapapun yang menjadi pemimpin Indonesia
adalah Pemimpin yang mampu menghadapi persoalan itu semua, pemimpin yang dapat
berdiri di atas semua golongan, pemimpin yang berdiri di atas kaki sendiri dan
berintregitas tinggi.
REFERENSI
1. Syugiarto, 2022 .“Gaya Kepemimpinan
Presiden Indonesia.”
2.
Wartiningsih,, “Tantangan Kepemimpinan Dalam Memanfaatkan Bonus Demografi.”
3.
Rachmat et al.,2022, “PELUANG DAN
TANTANGAN KEPEMIMPINAN INDONESIA DALAM BIDANG POLITIK-KEAMANAN DI ASEAN PADA
KRISIS POLITIK MYANMAR TAHUN 2021.”
4.
Alma'arif, , “ADAPTIVE PUBLIC LEADERSHIP : TANTANGAN KEPEMIMPINAN
MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) .”
5.
Garis, Regi Refian, Diah Suciati, Andi Wardani, 2023, “Tantangan Kepemimpinan Di Daerah.”
6.
Labolo et al., “No Title.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar