Senin, 20 Mei 2024

TANTANGAN KEPEMIMPINAN DALAM PEMERINTAHAN DI INDONESIA

  

TANTANGAN KEPEMIMPINAN 

DALAM PEMERINTAHAN DI INDONESIA

 



 

 

 

Dosen Pembimbing : 

Hendra Sukmana, S.AP., M.AP

 

Mata Kuliah : 

Kepemimpinan Dalam Sektor Publik

 

Disusun Oleh:

Ruri Achmadi

232020100207

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK 

FAKULTAS BISNIS, HUKUM, DAN ILMU SOSIAL 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

 

TAHUN 2024

 

 

 

 







BAB I PENDAHULUAN

 

Demokrasi saat ini telah menjadi sebuah tatanan yang diakui oleh masyarakat Indonesia. Keberadaanya telah melahirkan semangat baru untuk mewujudkan pemerintahan yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Dalam konteks kepemimpinan, demokrasi telah membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengambil kesempatan dalam turut berperan mengisi posisi-posisi kunci di pemerintahan. Saat ini kepemimpinan politik, baik di level nasional maupun lokal, telah banyak diisi oleh beragam figur dengan berbagai latar belakang. Secara umum, mereka adalah perwakilan atau kader dari partai politik yang telah terpilih melalui sebuah proses pemilihan yang melibatkan banyak kalangan. Formasi kepemimpinan politik, dengan demikian, sebagai fondasi dari kepemimpinan pemerintahan adalah resultante dari kebangkitan politik massa, setelah sebelumnya ditentukan oleh model politik elitis. Kebangkitan politik pada masa ini secara esensial menandai juga adanya sebuah kepercayaan baru antara masyarakat dengan partai-partai politik untuk menentukan kepemimpinan politik. Pada awal reformasi, kepercayaan itu demikian tinggi. Kebanyakan rakyat cukup meyakini bahwa partai, termasuk elite dan kadernya, akan memberikan sebuah perubahan yang signifikan bagi kehidupan mereka. Namun demikian, seiring dengan perjalanan waktu, muncul persoalan dalam konteks kepercayaan itu. Fenomena tingginya kepercayaan kepada partai-partai seolah tinggal cerita manis di awal sebuah orde.

Demokrasi saat ini telah menjadi sebuah tatanan yang diakui oleh masyarakat Indonesia. Keberadaanya telah melahirkan semangat baru untuk mewujudkan pemerintahan yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Dalam konteks kepemimpinan, demokrasi telah membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengambil kesempatan dalam turut berperan mengisi posisi-posisi kunci di pemerintahan. Saat ini kepemimpinan politik, baik di level nasional maupun lokal, telah banyak diisi oleh beragam figur dengan berbagai latar belakang. Secara umum, mereka adalah perwakilan atau kader dari partai politik yang telah terpilih melalui sebuah proses pemilihan yang melibatkan banyak kalangan. Formasi kepemimpinan politik, dengan demikian, sebagai fondasi dari kepemimpinan pemerintahan adalah resultante dari kebangkitan politik massa, setelah sebelumnya ditentukan oleh model politik elitis. Kebangkitan politik pada masa ini secara esensial menandai juga adanya sebuah kepercayaan baru antara masyarakat dengan partai-partai politik untuk menentukan kepemimpinan politik. Pada awal reformasi, kepercayaan itu demikian tinggi. Kebanyakan rakyat cukup meyakini bahwa partai, termasuk elite dan kadernya, akan memberikan sebuah perubahan yang signifikan bagi kehidupan mereka. Namun demikian, seiring dengan perjalanan waktu, muncul persoalan dalam konteks kepercayaan itu. Fenomena tingginya kepercayaan kepada partai-partai seolah tinggal cerita manis di awal sebuah orde.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memperoleh kemerdekaan dari proses perjuangan, baik itu perjuangan fisik (perang) maupun perjuangan dalam bentuk diplomasi. Indonesia yang saat ini berusia 79 tahun (1945-2024) telah memiliki 7 presiden, yaitu :

1.   Presiden Soekarno (1945-1967)

2.    Presiden Soeharto (1967-1998),

3.   Presiden B.J Habibie (1998-1999),

4.   Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001),

5.   Presiden Megawati Soekarno Putri (2001-2004),

6.   Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) dan

7.   Presiden Joko Widodo (2014 – Sekarang) (Ramdhan, 2015).

 

 Ke 7 Presiden yang telah memimpin Indonesia mulai dari awal kemerdekaan sampai saat ini memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, hal ini diperkuat dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Wahjosumidjo (1987), bahwa kepemimpinan pada hakikatnya merupakan suatu hal yang melekat pada diri seseorang pemimpin berupa sifat tertentu seperti kepribadian  (Personality), kemampuan (Ability) dan kesanggupan (Capability). Perbedaan gaya kepemimpinan ini dapat dilihat dari dua aspek, antara lain kepemimpinan atas dasar struktural dan kepemimpinan berdasarkan pertimbangan (Istijanto, 2006). Perbedaan gaya kepemimpinan serta sejarah yang terukir pada saat mereka memimpin menjadikan ketujuh presiden ini memperoleh panggilan lain atau julukan yang melekat pada diri mereka, seperti Presiden Soekarno yang disebut sebagai “bapak proklamator” karena menjadi presiden pertama Indonesia, pahlawan proklamasi serta salah satu founding fathers yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia (Wulandari 2021; Kris & Ratri, 2020). Presiden Soeharto mendapat julukan sebagai “bapak pembangunan nasional” karena menjadi presiden yang mencanangkan program pembangunan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang mana dimulai dari Repelita I (1965-1974), Repelita II (1974-1979), Repelita III (1979-1984), Repelita IV (1984-1989), Repelita V (1989-1994) dan Repelita VI (1994-1999) (Adryamarthanino & Nailufar, 2021). Presiden B. J Habibie mendapat julukan sebagai “ bapak teknologi indonesia” karena berhasil membuat pesawat N-250 Gatotkaca dan mengharumkan nama indonesia di mata dunia pada bidang pesawat terbang (Putra, 2019). Presiden Abdurrahman Wahid mendapat julukan sebagai “bapak pluralisme” karena lantang dan tegas membela keberagaman di indonesia (Prasetiyo, 2020). Presiden Megawati Soekarno Putri merupakan anak dari Presiden Soekarno dan pada saat dia menjadi presiden mendapat julukan sebagai “ibu wong cilik / ibu dari rakyat kecil” serta menjadi presiden wanita pertama di Indonesia (Arhamni, 2020). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono / SBY medapat julukan sebagai “bapak demokrasi” karena ia menjadi presiden melalui proses pemilihan umum (pemilu), selain itu presiden SBY juga dijuluki sebagai “bapak pertahanan” karena memiliki latar belakang sebagai jendral bintang empat (Kris & Ratri, 2020). Presiden Joko Widodo / Jokowi mendapat julukan sebagai “bapak infrastruktur” karena membangun banyak infrastruktur di wilayah-wilayah tertinggal yang tidak pernah terjamah oleh pemerintahan sebelumnya (Dewi dalam Prasetiyo, 2020).

 


BAB II PEMBAHASAN

Kepemimpinan dalam pemerintahan di Indonesia saat ini dihadapkan dengan berbagai macam tantangan. Korupsi, Radikalisme, keanekaragaman bangsa, kesenjangan sosial, separatisme, perekonomian, intervensi asing, perubahan iklim dan krisis global, akan memjadi momok para pemimpin yang ada di indonesia. Pemimpin Indonesia diharuskan  mampu memahami dan menyelesaikan tantangan tersebut . Dalam menghadapi tantangan tersebut,  Indonesia membutuhkan pemimpin yang dapat berdiri di atas semua golonagn, mengembangkan hubungan yang harmonis, penuh kepercayaan, saling pengertian, visioner, serta memiliki integritas dan etika yang tinggi.

Ada berbagai macam teori dalam Kepemimpinan Sektor Publik, diantaranya :

1. Teori Kepemimpinan Transformasional;

2. Teori Kepemimpinan Pelayan;

3. Teori Kepemimpinan Otentik;

 

1.  Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang berfokus pada menginspirasi, memotivasi, dan menggerakkan orang-orang untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dan mengubah situasi mereka untuk menjadi lebih baik. Pemimpin transformasional biasanya memiliki visi yang kuat, mampu mengkomunikasikan visi tersebut dengan jelas, dan memotivasi orang lain untuk bekerja menuju visi tersebut.

 

Ada empat komponen utama dari kepemimpinan transformasional :

a.  Visi: Pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas tentang masa depan yang diinginkan dan mampu mengkomunikasikan visi tersebut kepada para pengikut dengan cara yang inspiratif.

b.  Pemberdayaan : Pemimpin transformasional memberdayakan para pengikutnya dengan memberikan otoritas, tanggung jawab, dan kepercayaan untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.

c.  Pemberian Contoh: Pemimpin transformasional menjadi contoh yang baik bagi para pengikutnya dengan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang dan visi yang dikejar.

d.  Stimulasi Intelektual: Pemimpin transformasional mendorong para pengikutnya untuk berpikir kreatif, menantang status quo, dan mencari solusi yang inovatif untuk mengatasi tantangan.

 

2.   Kepemimpinan pelayan adalah suatu pendekatan kepemimpinan di mana pemimpin mengutamakan pelayanan kepada orang lain sebagai prioritas utama. Sebaliknya, tujuan utama mereka adalah untuk memenuhi kebutuhan, mendorong pertumbuhan, dan meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang mereka pimpin.

 

Beberapa prinsip utama dari kepemimpinan pelayan meliputi:

 

a.  Pelayanan: Pemimpin pelayan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri. Mereka berfokus pada membantu orang lain tumbuh dan berkembang.

b.  Empati: Pemimpin pelayan memiliki kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan, kebutuhan, dan perspektif orang lain. Mereka berusaha untuk memahami orang lain secara mendalam.

 

c.  Pembangunan Kesadaran: Pemimpin pelayan membantu orang-orang di sekitar mereka untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri, lingkungan mereka, dan bagaimana mereka dapat berkontribusi secara positif.

d.  Pemajuan Kepemimpinan: Pemimpin pelayan mendorong pertumbuhan kepemimpinan dalam orang lain, bahkan jika itu berarti melepaskan kendali atau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memimpin.

e.  Berfokus pada Kesejahteraan Bersama: Pemimpin pelayan mengutamakan kesejahteraan dan kesuksesan kolektif tim atau organisasi daripada kepentingan individu mereka sendiri.

f.   Kepemimpinan pelayan sering kali dianggap sebagai pendekatan yang sangat efektif dalam membangun hubungan yang kuat, memotivasi tim, meningkatkan kinerja, dan menciptakan budaya kerja yang inklusif dan berkelanjutan.

 

3.   Kepemimpinan otentik adalah konsep kepemimpinan yang menekankan pentingnya keaslian, integritas, dan kejujuran dari seorang pemimpin. Pemimpin otentik memperlihatkan diri mereka secara terbuka dan transparan kepada orang-orang yang mereka pimpin, dan mereka bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadi mereka.

 

Berikut adalah beberapa ciri-ciri utama dari kepemimpinan otentik:

 

a.    Kepemimpinan Berbasis Nilai: Pemimpin otentik bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mereka yakini. Mereka tidak hanya mengikuti tren atau beradaptasi dengan harapan-harapan orang lain, tetapi mereka bertindak sesuai dengan apa yang mereka yakini benar dan penting.

b.   Kejujuran dan Integritas: Kepemimpinan otentik didasarkan pada kejujuran dan integritas. Pemimpin tersebut bersikap konsisten antara kata-kata dan tindakan mereka, dan mereka tidak melakukan manipulasi atau kebohongan untuk mencapai tujuan mereka.

c.    Keterhubungan dan Empati: Pemimpin otentik memiliki kemampuan untuk terhubung dengan orang lain secara emosional dan memahami perspektif mereka. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan menghargai pengalaman dan pandangan orang lain.

d.   Pemberdayaan dan Keterbukaan: Pemimpin otentik memberdayakan orang-orang di sekitar mereka untuk berkembang dan mencapai potensi maksimal mereka. Mereka menciptakan lingkungan di mana orang merasa aman untuk berkontribusi dan mengemukakan ide-ide mereka.

e.    Komitmen pada Pertumbuhan Pribadi: Pemimpin otentik terus-menerus berusaha untuk meningkatkan diri mereka sendiri dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan mereka. Mereka sadar akan kekuatan dan kelemahan mereka, dan mereka berkomitmen untuk belajar dan berkembang.

f.     Kepemimpinan otentik dapat membantu membangun kepercayaan, meningkatkan kinerja, dan menciptakan budaya kerja yang positif di dalam organisasi.

 

 

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan data di atas, dapat diketauhi bahwa ada begitu banyak karakter bagi Pemimpin. Dengan adanya ilmu tentang Kepemimpinan Sektor Publik, diharapkan kita sebagai calon calon pemimpin, dapat memahami dan menerapkan cabang ilmu tersebut hingga dapat menjadi pemimpin yang efektif dan efisien di lingkungan kita masing masing.

 

BAB IV REKOMENDASI

 

Melihat begitu banyak nya tantangan yang di hadapi Indonesia, baik itu tantangan dari dalam negeri dan luar negeri, di harapkan siapapun yang menjadi pemimpin Indonesia adalah Pemimpin yang mampu menghadapi persoalan itu semua, pemimpin yang dapat berdiri di atas semua golongan, pemimpin yang berdiri di atas kaki sendiri dan berintregitas tinggi.

 

REFERENSI

1.   Syugiarto, 2022 .“Gaya Kepemimpinan Presiden Indonesia.”

2.      Wartiningsih,, “Tantangan Kepemimpinan Dalam Memanfaatkan Bonus Demografi.”

3.       Rachmat et al.,2022,  “PELUANG DAN TANTANGAN KEPEMIMPINAN INDONESIA DALAM BIDANG POLITIK-KEAMANAN DI ASEAN PADA KRISIS POLITIK MYANMAR TAHUN 2021.”

4.     Alma'arif,  , “ADAPTIVE PUBLIC LEADERSHIP : TANTANGAN KEPEMIMPINAN MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) .”

5.      Garis, Regi Refian, Diah Suciati, Andi Wardani, 2023,  “Tantangan Kepemimpinan Di Daerah.”

6.       Labolo et al., “No Title.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar